Sejarah, Pengertian, dan Belajar Ilmu Nahwu

Apa yang kalian ketahui tentang ilmu Nahwu?? Yaps… Ilmu Nahwu adalah suatu ilmu yang membahas grammer bahasa Arab.

Kita tahu bahwa setiap bahasa pasti punya grammer (tata bahasa) atau kaidah-kaidah yang harus di terapkan dalam bahasa itu, entah itu bahasa Inggris, bahasa Indonesia, bahasa Jepang, bahasa Mandarin, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa lainya.

Artikel ini akan membahas tentang sejarah, pengertian, dan belajar ilmu nahwu.

Sejarah Ilmu Nahwu

Sejarah Ilmu Nahwu
Source: Google

Awal mula ilmu nahwu yaitu ketika kesalahan orang arab dalam berbicara bahasa arab, dan Abu Tayyib pernah menyatakan kesalahan dalam bahasa arab terjadi pada orang arab pedalaman (baduy) atau para budak (hamba sahaya).

Abu Bakar juga pernah berkata bahwasanya ia lebih senang mendengar orang yang membaca meskipun salah daripada orang yang salah dalam gramatikal.

Umar bin Khotob juga terkadang merasa marah kepada orang yang ia jumpai yang berbahasa arab dengan tata bahasa yang salah. Umar pernah berkata “Demi Allah, kesalahan kalian dalam berbahasa lebih bahaya bagi diriku daripada kalian salah dalam memanah.”

Ibu Qutaybah juga pernah mendengar  orang arab baduy yang adzan dan menasbkan (fathah) pada lafadz ‘muhammadar rasu(lu)llah‘ menjadi ‘muhammadar rasu(la)llah‘.

Dan istilah kebiasaan orang arab yang salah dalam berbicara bahasa arab disebut Arab Al-Lahn.

Kesalahan Pengucapan Arab (Arab Al-Lahn)

Kesalahan Arab Al-lahn juga di kategorikan menjadi dua:

  • Kesalahan pada orang Arab itu sendiri, dan
  • Kesalahan pada orang-orang selain Arab (‘ajam), karena pada waktu itu islam sudah menyebar ke wilayah luar jazirah arab.

Penyusun Ilmu Nahwu

menulis ilmu nahwu
Source: Pixabay

Kebanyakan para ulama sepakat yang menyusun ilmu nahwu pertamakali ialah Abul Aswad Ad Dauly (67 H) dari golongan Bani Kinanah atas perintah Khalifah Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu.

Kisah ketika Abul Aswad Ad-Dauly datang menemui putrinya di Basrah yaitu Irak (daerah diluar jazirah arab).

Ketika putrinya menyapa Abul Aswad dengan pengucapan bahasa arab yang salah dalam suatu lafalnya, dan juga Abul Aswad menemukan kesalahan-kesalahan berbahasa pada orang-orang irak.

Abul Aswad kemudian mengadu kepada kholifah Ali dan mengatakan perihal putrinya dan orang-orang irak yang salah dalam berbahasa arab, dan meminta kepada kholifah untuk membuatkan sebuah ilmu tentang tata bahasa arab.

Kholifa Ali mengatakan:

اَلْكَلاَمُ كُلُّهُ لاَيَخْرُجُ عَنِ اسْمٍ وَفِعْلٍ وَحَرْفٍ الخ عَلَى هَذَا النَّحْوِ

“Semua kata (bahasa arab) tidak boleh keluar dari isim, fiil, dan huruf dan teruskanlah untuk sesamanya ini.”

Lalu Abul Aswad mengarang bab Istifham dan Ta’jub.

Di kisahkan juga bahwasanya ketika Abul aswad melewati orang yang sedang membaca Al-quran, ia mendengar surat At-Taubah ayat 3 yang dibaca:

أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِّنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُولِهُ

mengkasrahkan pada lafadz wa rusuu(li)hi, dan membuat artinya menjadi rusak dan salah, yaitu “Sesungguhnya Allah berlepas diri dari orang-orang musyrik dan rasul-Nya”.

Yang seharusnya medhomahkan lafadz wa rusuu(lu)hu,

أَنَّ اللهَ بَرِىءٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ وَرَسُوْلُهُ

dengan arti “Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang Musyrik”.

Ketika kejadian ini Abul Aswad takut bahasa arab menjadi rusak dan hilangnya tata bahasa arab yang benar. Abul Aswad pun mengarang bab tentang Atho dan Na’at. Setiap karangan yang ia buat selalu ia setorkan ke Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan disetujui olehnya.

Para ahli menetapkan yang meletakan gagasan awal dasar ilmu nahwu adalah Ali bin Abi Thalib, dan juga yang mengerjakannya yaitu Abul Aswad Ad-Dualy, dan waktu terus berlalu begitu juga kemajuan dalam bidang sastra, dan mengharuskan untuk berbahasa Arab secara benar, berdasarkan kaidah-kaidah dasar bahasa arab yang di sepakati.

Generasi-generasi Ilmu Nahwu

dari generai ke generasi
Source: Pixabay

Perkembangan ilmu nahwu berkembang seiring berjalannya waktu dari generasi ke generasi, diceritakan bahwa Abul Aswad Ad-Dualy mengajarkan ilmu nahwu kepada banyak orang di generasi awal diantaranya:

  • Maimun Al-Aqron
  • Anbasatu Al-Fil bin Adwan
  • Yahya bin Adwan
  • ‘Atho
  • Abu Al-Harts (putra dari Abul Aswad).

Kemudian di generasi selanjutnya ada Abu Amr bin Ala’ dan generasi seterusnya diantarannya:

  • Generasi ke-5 ada (Al-Kholil bin Ahmad Al-Farohidi).
  • Generasi ke-6 ada (Sibawaih, dan Al-Kisai).
  • Generasi ke-7 ada (Abu Al-Hasan Al-Ahfas Al-Awsath Sa’id bin Mus’idah, dan Al-Fara).
  • Generasi ke-8 ada (Sholih bin Ishaq Al-Jaromi, dan Bakar bin Ustman Al-Mazin).
  • Generasi ke-9 ada Muhammad bin Yazid Al-Mubarrod.
  • Generasi ke-10 ada (Abu Ishaq Al-Zujaj, Abu Bakar bin Al-Siraj, Ibnu Durustawih,dan Abu Bakar bin Shobroman).
  • Generasi ke-11 ada (Abu Ali al-Hasan bin Abdu al-Ghifar al-Farisi, Abu Sa’id al-Hasan bin Abdullah al-Saironi, dan Ali bin Isa al-Zumaani).
  • Generasi ke-12 ada Abu al-Fath bin al-Jani.
  • Generasi ke-13 ada Syaikh Abdu al-Qohar al-Jurjani.
  • Generasi ke-14 ada al-Zamahsyari.
  • Generasi ke-15 ada Ibnu al-Hajib.
  • Generasi ke-16 ada (Ibnu Malik,dan Ibnu Hisyam).

Dan sampai kepada kita dengan tata bahasa arab yang sudah kompleks bahkan dipelajari dalam kurikulum.

Kitab Kitab Nahwu

buku-buku jaman dulu
Source: Pixabay

Sebenarnya banyak kitab-kitab Nahwu dari generasi-generasi yang bisa kita pelajari untuk memperbaiki tata bahasa (arabic grammer).

Adapun kitab tentang ilmu nahwu yang populer diajarkan dikalangan umum dan juga pondok diantaranya:

  1. Matan Al-Jurumiyah (karangan Muhammad bin Muhammad Al-Shonhaji)
  2. Alfiyah Ibnu Malik
  3. Qathrunnada wa ballus shada 
  4. Audahul Masalaik Syarah Alfiyah Ibnu Malik
  5. Syarah Alfiyah Ibnu Aqil
  6. Al-Mumti’ Syarh Matan Al-Jurmiyah
  7. Mulakhkhash Qawaid Al-Lughah Al-Arabiyyah
  8. Jami’ Ad-Durus Al-Arabiyyah
  9. Silsilah ta’lim al-lughah al-arabiyyah ]

Mungkin para santri tidak asing lagi dengan kitab Al-Jurumiyah, Nahwul Wadih, dan kitab-kitab lainnya yang biasa dipelajari di pondok.

Pengertian Ilmu Nahwu

pengertian nahwu
Source: Pixabay

Secara Bahasa ( النحو ) memiliki 6 makna yaitu:

  1. القصد yang berarti Menyengaja
  2. الجهة yang berarti Arah
  3. المثل yang berarti Seperti
  4. المقدار yang berarti Kira-Kira
  5. القسم yang berarti Bagian
  6. البعض yang berarti Sebagian

Secara Istilah ( النحو ) ada dua yaitu:

علم بأصول مستمبطة من كلام العربية يعرف بها احكام الكلماا العربية حال إفردها وحال تركبها

“Ilmu tentang kaidah-kaidah (pokok-pokok) yang berasal dari kalam arab, untuk mengetahui hukum-hukum kalimat arabiyah dalam keadaan murad (sendiri) dan keadaan ketika ditarkib (i’rab dan mabni).”

علم بأصول مستنطة من قواعد العربية يعرف بها أحوال أواخر الكلم إعرابا وبناء

“Ilmu tentang pokok-pokok yang berasal dari kaidah-kaidah bahasa arab, untuk mengetahui keadaan akhir kalimat baik i’rab ataupun mabni.”

Dalama definisi pertama, nahwu tidak hanya membahas ketika dalam keadaan akhirnya saja tapi juga menjelaskan ketika kalimat itu dalam keadaan tidak ditarkib, berupa: Idhom, I’lal, pergantian dan pembuangan huruf, dan lainnya.

Ilmu Nahwu merupakan salah satu ilmu dari 13 cabang ilmu Lughatul Arabiyyah, dan merupakan ilmu yang sangat urgen ketika kita mau memahami kalam Allah (Al-Quran), Al-Hadits, atau makna dalam bahasa arab.

13 cabang ilmu Lugatul Arabiyah (Ulumul Arabiyah) yaitu:

  • Nahwu
  • Tashrif (shorof)
  • Bayan
  • Ma’ani
  • Badi’
  • rasm (khot)
  • ‘Arudh
  • Qawafi
  • Qarhu Syi’ri,
  • Insya’
  • Khithabah
  • Tarikhul Adab
  • Matan Lughah

Ilmu nahwu juga menjadi salah satu syarat dalam ushul fikih ketika seseorang ingin melakukan ijtihad, dan syarat ketika ingin menjadi seorang mufassir.

Belajar Ilmu Nahwu

belajar-bahasa
Source: Gerakan Literasi Nasional

Ada dua langkah mudah untuk mempelajari Ilmu Nahwu:

Memahami pola dan struktur kalimat atau kata

• Unsur-unsur kalimat atau kalam dalam bahasa arab:

  1. Isim
  2. Fi’il
  3. Huruf

• Pola kalimat:

  1. Jumlah Fi’liyah
  2. Jumlah Ismiyah

• Struktur (SPOK) dalam kalimat bahasa Arab:

  • Subjek
    1. Mubtada
    2. Ismun Kaana
    3. Ismun Inna
    4. Ismun Laa li Nafijinsi
    5. Ismul Af’al Muqarabah
    6. Fa’il
    7. Naibul Fa’il
  • Predikat
    a. Fi’il
    b. Khabar
  • Objek
    1. Maf’ulun Bih
    2. Maf’ul Dzonna
  • Keterangan
    a. Hal
    b. Tamyiz
    c. Masdar
    d. Dzorof
    e. Maf’ul li Ajlih
    f. Maf’ul Ma’ah
    g. Mustasna
    h. Adad
    i. Jar Majrur dan Idofah
    j. Tawabi 

Memahami I’rab (Pendekatan)

• MU’RAB

  1. Isim Mu’rab
    a. Harus marfu’
    b. Harus mansub
    c. Harus Majrur
    d. Tanda isim semua isim mu’rab
  2. Fi’il  Mudhori’
    a. Fi’il sohih akhir
    b. i’il mu’tal akhir
    c. Af’al khomsah

MABNI

  1. Isim dan sebabnya
    a. Dhomir
    b. Isyarah
    c. Istifham
    d. Syarat
    e. Maushul
    f. Isim Fa’il
  2. Fi’il dan hukumnya
    a. Madhi’
    b. Mudhori’
    c. Amr’
  3. Huruf
    a. Fathah
    b. Domah 
    c. Kasrah
    d. Sukun

Jika kalian masih kebingungan dengan penjelasan di atas kalian bisa liat video di bawah ini, disajikan dalam bentik animasi (rekomendasi).

Video Pembelajaran Tentang Ilmu Nahwu oleh Yayasan BISA

Baca artikel lain tentang Nabi dan Rasul yang Termasuk Ulul Azmi

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: