Kisah Kholifah Umar bin Abdul Aziz

Kisah Umar bin Abdul Aziz – Ialah kholifah ke delapan setelah Sulaiman bin Abdul Malik, pemerintahan yang adil bagi semua kalangan.

Ia juga disebut sebagai Umar II, dan Umar I yaitu Umar bin Khotob.

Umar juga merubah banyak kebijakan-kebijakan yang tidak sesuai, dan merugikan bari keluarga pusat yang hidup mewah yaitu keluarga Umayyah dan membuat keluarga itu memusuhinya dan membunuhnya.

Kelahiran

Kisah kelahiran Umar bin Abdul Aziz
Source : Pixabay

Nama beliau adalah Umar bin Abdul Aziz bin Marwan bin Hakam bin Abdul Ash bin Umayyah. Ibunya bernama Ummu Asim binti ‘Asim yaitu cicit dari Khulafaur Rayidin ke-2 yaitu Umar bin Khotob.

Ia lahir tahun 692, tapi pendapat tentang kelahiran beliau ada yang mengatakan di Mesir karena ayahnya Abdul Aziz seorang gubernur Mesir pada waktu itu, dan juga ada yang mengatakan di Madinah.

Tapi semuanya bersepakat bahwa beliau tumbuh besar di Madina.

Video Referensi: Tentang Umar bin Abdul Aziz oleh Ustad Kholid Basalamah

Kisah Penjual Susu

Kisah Nenek Umar bin Abdul Aziz
Source : Pixabay

Ada kisah pada masa kekholifahan Umar bin Khotob, ketika itu umar pergi berkeliling untuk melihat kaum muslimin pada malam hari.

Ketika melewati sebuah rumah ia mendengar percakapan seorang ibu dan putrinya.

Ibunya berkata ” Wahai anakku, cepatlah masukan air kedalam susu ini agar terlihat banyak sebelum matahari terbit.”

Lalu putrinya menjawab “Wahai ibu kita tidak boleh berbuat demikian, Amirul mukminin melarang untuk berbuat curang.”

Ibunya terus mendesak dan berkata “Tidaklah mengapa, Amirul mukminin tidak akan tahu apa yang kita lakukan.”

Putrinya membalas “Memang Amirul mukminin tidak tahu perbuatan kita tapi Rabbnya Amirul mukminin tahu.”

Mendengar kemuliaan gadis itu umar menangis kemudian pulang kerumah dan menyuruh anaknya yang bernama ‘Asim untuk menikahi gadis itu.

Kemudian ‘Asim taat dan tidak banyak bertanya dan segera menikahi gadis penjual susu itu.

Umar berkata “Semoga lahir keturunan dari gadis ini seorang anak yang akan menjadi pemimpin bagi orang-orang arab dan ‘ajam (orang luar Arab).”

Pernikahan ‘Asim dan gadis itu melahirkan putri yang bernama Laila atau dipanggil dengan Ummu ‘Asim, kemudian Ummu ‘Asim menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan dan dikaruniai anak bernama Umar bin Abdul Aziz.

Tumbuh Besar di Madinah

Umar Tumbuh besar di Madinah
Source : Pixabay

Ia tumbuh besar di Madinah di bawah asuhan Ibnu Umar yaitu seorang yang meriwayatkan banyak hadits dan seorang ahli hadits.

Beliau merupakan anak yang sholeh, cerdas dan juga ahli dalam pengetahuan agama.

Tumbuh di lingkungan yang di berkahi ilmu, bertemu dengan para tokoh dan golongan Tabi’in yang masih hidup dan belajar langsung dengan mereka.

Kehidupan beliau serba cukup keturunan dari keluarga yang kaya.

Kisah Umar bin Abdul Aziz Menikah

Setelah ayahnya meninggal ia pergi ke Damaskus karena panggilan Abdul Malik dan ia dinikahkan dengan anaknya Abdul malik bernama Fatimah binti Abdul Malik.

Madinah Menjadi Gubernur Madinah

Setelah Ayah mertuanya meninggal kemudia diberiakan kepada Umar bin Abdul Aziz sebagai Gubernur Madinah tahun 706 pada masa kekholifahan Al-Walid I.

Di masa pemerintahan beliau menjadi gubernur Madinah, ia membetuk sebuah dewan yang bersama-sama dengannya membangun pemerintahan provinsi.

Pada masa pemerintahan beliau banyak permasalahan yang terselesaikan dan pemerintahannya jauh lebih baik dari sebelumnya.

Ditambah lagi banyak orang irak yang bermigrasi ke Madinah, mencari perlindungan karena pemerintahan disana berlaku kejam, yang dipegang oleh Al Hajjaj bin Yusuf.

Al Hajjaj pun marah dan menekan Al-Walid I supaya memberhentikan Umar. Al-Walid pun menyetujui dan memberhentikan Umar.

Di masa Al-Walid I memerintahkan untuk memperluas area Masjid Nabawi sehingga rumah rasulullah juga ikut direnovasi.

Dan Umar yang membacakan keputusan Al-Walid I di depan penduduk Madinah, sehingga banyak penduduk yang sedih dan menagis.

Masa Kholifah Sulaiman bin Abdul Malik

Setelah Al Walid meninggal kekholifahannya diganti kepada saudaranya yaitu Sulaiman bin Abdul Malik.

Sulaiaman sangat dekat dengan Umar merupakan sepupunya dan ia menghormati beliau.

Menjelang wafatnya Sulaiman penasihatnya yang bernama Raja’ bin Haiwah menasehatinya agar memilih pengganti yang adil. Kemudian Sulaiman memberi wasiat terakhirnya yaitu “Memerintahkan kepada para mentri dan para gubernur agar berbai’ah kepada penerusnya yaitu Umar bin Abdul Aziz.”

Wasiat ini juga dirahasiakan dari keluarga dan kalangan mentri sebelum ia meninggal dan diumumkan setelah wafatnya beliau.

Baca : Pembahasan Surat Ar Rum Ayat 21 bagi kamu yang mau menikah.

Menjadi Kholifah Ke-8 Dinasti Umayyah

Kekholiahan Umar bin Abdl Aziz
Source : Google

Setelah Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi kholifah, ia meninggalkan semua pakaian-pakain mahalnya dan kemegahannya ke baitul maal, da juga mengganti dengan pakaian yang murah dan seadanya.

Setelah selesai memimpin acara pemakaman Sulaiman bin Abdul Malik kemudian para pengawal kholifah mempersiapkan kendaraan khusus kholifah untuk pulang, tapi beliau menolak dan beliau pilang dengan keledai miliknya.

Beliau juga menolak untuk menempati istana di Damskus, dan memilih untuk tinggal di atap yang biasa.

Kemudian berita diangkatnya Umar menjadi pengganti Sulaiman tersebar dan sampai kepada Abdul Aziz bin Al Walid, yang sebelumnya juga merupakan calon pengganti Ayahnya, tapi yang jadi kholifah adalah Sulaiman.

Abdul Aziz datang kepada Umar dengan membawa pasukannya, dan Umar menerima kedatangan Abdul Aziz dan ia berkata bahwasanya ia tidak menginginkan kekuasaan ini, jika Abdul Aziz menginginkannya maka ia tidak akan menghalangi.

Mendengar pernyataan Umar, Abdul Aziz berkata ” Tiada orang yang aku harapkan mengisi kekuasaan ini selain engkau.”

Masa Pemerintahan Umar bin Abdul Aziz

Masa Pemerintahan Kholifah
Source : Pixabay

Pada masa Umar terjadi revolusi besar-besaran, semua kebijakan dari pusat berubah dan berbanding terbalik dari kebijakan sebelumnya.

Secara tegas apabila gubernur melakukan kecurangan atau korup maka ia akan bi berhentikan.

kebiasaan bani umayyah terhadap ahlul bait Rasulullah, salah satu kebenciannya yaitu mengharuskan para khotb jum’at mencaci Ali bin Abi Thalib, kemudian Umar bin Khotob melarang itu.

Tanah Fadak di kembalikan kepada bani Hasyim sebagai hak atas Fatimah binti Rasulullah yang sebelumnya di eksploitasi oleh bani Umayyah.

Kebijakan-kebijakan ini membuat gerah keluarga bani Umayyah, karena hak keistimewaan dicabut atas masyarakat lainnya.

Harta yang dikumpulkan bani Umayyah yang didapat dengan cara bathil akan di kembalikan ke baitul maal.

Umar Diracuni Oleh keluarga Bani Umayyah

Kisah Umar bin Abdul Aziz yang diracuni oleh keluarga Umayyah
Source : Pixabay

Keluarga bani Umayyah pun akhirnya bersepakat untuk membunuh Umar bin Abdul Aziz.

Keluarga Umayyah akhirnya memutuskan untuk meracuni Umar agar kejadiannya tidak membuat gaduh.

Keluarga Umayyah menyuruh budaknya Umar yang bernama Alas untuk menaruh racun dimakanannya Umar, dengan hadiah 1000 dinar dan dia akan dimerdekakan.

Alas pun tergoda dan akhirnya ia melakukan apa yang diperintahkan oleh keluarga Umayyah.

Umar pun menyadari bahwa budaknya telah memberinya racun, kemudian Umar memanggil Alas dan bertanya, “Apa yang membuatmu memberi racun kepadaku?.”

Alas menjawab “Aku dihadiahi 1000 dinar dan kebebasan atas diriku.”

Umar memerintahkan Alas untuk membawa dirham yang dia terima dan menyuruhnya untuk dimasukkan ke baitul maal, dan ia menyuruh Alas pergi sebagai orang yang merdeka.

Umar bin Abdul Aziz wafat pada 25 Rajab 101 H, dan pemerintahan yang dipimpinnya selama 2 tahun 5 bulan.

Dalam waktu yang singkat itu adalah kesempatan untuk memberikan keadilan pada pemerintahan Dinasti Umayyah, tapi setelah beliau wafat dan digantikan oleh Yazid bin Abdul Malik, dan itulah awal kehancuran Dinasti Umayyah.

Kisah Umar bin Abdul Aziz dalam pemerintahannya yang Adil membuat ia dianggap sebagai Khulafaur Rasyidin ke-5 setelah Ali bin Abi Thalib.

 

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: