Macam Macam Strategi Pembelajaran

Macam macam strategi pembelajaran – Pembelajaran merupakan salah satu kegiatan yang tidak bisa lepas dalam kehidupan kita sehari-hari, terepas dari bentuk pembelajaran yang formal ataupun nonformal.

Adapun strategi/teknik pembelajaran itu sendiri harus dimiliki oleh setiap para pendidik, guru, ustad, maupun orang yang belajar untuk menjadi seorang pendidik.

Fungsi adanya sebuah strategi dalam sebuah pembelajaran adalah menyampaikan ilmu dengan seni/keahlian tersendiri agar tersampaikan yag sesui dengan tujuan, efisien, dan efektif.

Berikut macam-macam strategi/teknik dalam sebuah pembelajaran menurut Sanjaya (2007: 177-286) diantaranya:

1. Strategi Pembelajaran Ekspositori (SPE)

strategi pembelajaran ekspositori
Source: Tinta Pendidikan Indonesia

Strategi ini disebut juga dengan “direct Intruction” (strategi langsung) dan “chalk and talk”, yaitu teknik penyampaian materi/ilmu secara verbal atau bisa kita sebut dengan metode ceramah.

Karakteristik pada strategi pembelajaran ekspositori (SPE)

SPE memiliki 3 karakteristik, diantaranya:

  1. Bertutur kata secara lisan yang merupakan alat utama dalam menyampaikan materi.
  2. Materi pembelajaran yang sudah disiapkan oleh pendidik, dimana sudah dalam bentuk konsep data yang harus dihapal siswa.
  3. Penguasaan materi merupakan tujuan utama bagi seorang pendidik/pengajar.

Dalam strategi ini juga dikenal sebagai “teach centered approach” yaitu sebuah strategi yang berorientasi pada pendidik itu sendiri, karena perannya yang sangat dominan.

Prinsip Prinsip Penggunaan pada strategi pembelajaran ekspositori (SPE) 

Berikut prinsip-prinsip pada strategi pembelajaran ekspositori (SPE), diantaranya:

1. Prinsip Kominikasi

Prinsip komunikasi pada strategi ini merupakan penyampaian pesan dari pendidik/guru kepada murid/siswa. Prinsip ini akan lebih efektif jika pesan yang disampaikan mampu dengan mudah ditangkap oleh para siswa secara utuh.

2. Prinsip Kesiapan

Prinsip ini harus dimiliki oleh para guru ataupun siswa sebelum pembelajaran dimulai, karena semua orang mampu dengan cepat merespon stimulasi materi yang disampaikan/ditangkap jika ia sudah siap.

3. Perinsip Berkelanjutan

Pendidik yang berhasil dalam penyampaian materi yaitu ketika siswa tersebut terbawa pada situasi ketidakseimbangan atau yng disebut “disequilibrium”. 

Disequilibrium yaitu ketidak seimbangan yang mengarah pada perubahan kognisi yang terjadi karena adanya tantangan yang diberikan kepada siswa tersebut.

Dengan begitu siswa akan selalu terdorong untuk mencari, menemukan, atau menambah wawasan dalam proses belajar berlangsung.

4. Berorientasi pada tujuan

Strategi ini diterapkan berdasarkan orientasi pada tujuan yang jelas dan terukur, karena dengan tujuan yang terorientasi menjadikan para guru atau pendidik mampu mengontrol efektivitas penggunaannya.

“Hal terpenting dalam menjalankan strategi ini adalah pendidik mampu membuka file dalam otak siswa tersebut”

2. Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)

Pembelajaran inkuiri
Source: Attest

Kata inkuiri sendiri berasal dari bahasa inggris “inquiry” yang berarti penyelidikan, penelitian, dan juga pencarian.

Definisi strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah urutan kegiatan belajar yang menekankan siswa mampu berpikir kritis dan analitis dalam mencari serta menemukan jawaban pada masalah yang harus dipecahkan.

Tujuan strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah membantu siswa mengembangkan kedisplinan dalam hal keterampilan dan juga intelektual mereka.

Sasaran utama dalam strategi inkuiri ini adalah melibatkan siswa untuk mengikuti proses belajar seara maksimal, terarah, dan sistematis.

Prinsip Prinsip Penggunaan pada Strategi Pembelajaran Inkuiri (SPI)

Menurut Piaget perkembangan mental (intelektual) pada strategi pembelajaran dipengaruhi oleh 4 faktor, diantaranya:

1. Maturation (Pematangan)

Maturation/pematangan adalah perubahan pada seorang anak/siswa baik secara fisiologis atau anatomis, perubahan tersebut bisa terlihat pada perubahan fisik seperti tubuh, otak, dan sistem saraf.

2. Physical Experience

Physical experience adalah tindakan-tindakan pada fisik siswa terhadap benda-benda yang ada di sekitarnya.

Tindakan-tindakan ini mampu memberikan pengalaman pada ada fisik siswa tersebut, sehingga mampu mengembangkan aktivitas atau daya pikir menjadi ide.

3. Social Experience

Berbeda dengan Physical experience, Social Experience adalah kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan mahluk hidup / orang lain disekelilingnya.

Dengan adanya pengalaman sosial ini siswa akan menyadari aturan-aturan lain, sehingga siswa akan dituntut untuk mempertimbangkan atau menerima pendapat orang lain.

Selain itu faktor ini juga mengambangkan siswa dalam aspek lain seperti kemampuan berbahasa, dan mengurangi egocentric-nya.

4. Equilibration (Keseimbangan)

Equilibration/keseimbangan adalah proses penyesuaian siswa antara pengetahuan yang sudah di dapat dengan pengetahuan baru.

Faktor ini siswa akan dituntuk untuk memperbaharui pengetahuan setelah menemukan informasi yang baru didapat yang tidak sesuai dengan pengetahuannya.

Dari keempat faktor diatas barulah terbentuk prinsip-prinsip dalam strategi pembelajaran inkuiri (SPI), diantaranya:

a. Berorientasi pada pengembangan intelektual

b. Prinsip Interaksi

c. Prinsip Bertanya

d. Prinsip Ketebukaan

3. Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah (SPBM)

problem based learning
Source: Google

Strategi pembelajaran berbasis masalah atau problem based learning adalah aktifitas mental atau intelektual siswa dalam memahami konsep pembelajaran pada situasi dan masalah yang belum terselesaikan.

Pada strategi ini siswa mampu meningatkan pemahaman konsep dan kemampuan kreatifitas.

Selain itu pembelajaran dengan strategi berbasis masalah juga mampu mendekatkan siswa pada masalah autentik, sehingga siswa bisa menyusun, menumbuhkembangkan pengetahuan dan keterampilannya yang lebih tinggi.

Langkah Langkah dalam Menerapkan Strategi Pembelajaran Berbasis Masalah

Berikut langkah-langkah umum dalam melakukan atau menerapkan SPBM, diantaranya:

1. Menyadari Masalah

Tahap awal penerapan strategi ini para pendidik sudah menyadari adanya masalah yang harus dipecahkan.

Para pendidik/guru akan membimbing para siswa untuk menentukan dan menangkap kesenjangan yang terjadi dari fenomena yang ada.

2. Merumuskan Masalah

Merumuskan masalah merupakan hal penting dalam pemecahan masalah, karena dalam langkah berikutnya harus ada penjelasan dan kesamaan persepsi masalah.

Bahan pelajaran dalam bentuk topik bisa dicari dari kesenjangan, kemudian difokuskan pada masalah yang layak untuk dikaji.

Pada langkah ini kemampuan dalam mengkaji, merinci, dan menganalisis pada siswa dapat dimanfaatkan untuk memunculkan rumusan masalah yang jelas, spesifik, dan terpecahkan.

3. Merumuskan Hipotesis

Dalam perumusan hipotesis siswa mampu menentukan dan menganalisa sebab akibat dari masalah yang akan diselesaikannya.

4. Mengumpulkan Data

Siswa didorong untuk mengumpulkan data yang relevan, dengan kecakapan mereka dalam mengumpulkan maupun memilih data, sehingga pemetaan dan penyajiannya mudah dipahami.

5. Menguji Hipotesis

Setelah data suah dikumpulkan, siswa akan diarahkan untuk kecakapan dalam menelaah data dan juga membahasnya dengan keputusan dan kesimpulan yang sudah di tentukan.

6. Menentukan Pilihan Penyelesaian

Dalam langkah akhir siswa mampu memilih alternatif penyelesaiaan yang akan dipilihnya, yang sudah diperhitungkan akibatnya.

4. Strategi Pembelajaran Peningkatan Kemampuan Berpikir (SPPKB)

Strategi pembeajaran peningkatan kemampuan berfikir (SPPKB) merupakan model pengembangan kemampuan berfikir siswa melalui fakta-fakta yang telah ditelaah.

Siswa juga dibimbing untuk menentukan sendiri konsep yang akan ia kuasai melalui proses dialogis (komunikatif).

5. Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK)

Strategi Pembelajaran Kooperatif
Source: google

Strategi pembelajaran kooperatif atau juga pembelajaran kelompok merupakan rangkaian dalam kegiatan pembelajaran yang dibentuk melalui kelompok-kelompok tertentu dengan bertujuan untuk mencapai pembelajaran yang telah ditentukan pendidik.

Unsur Unsur dalam Strategi Pembelajaran Kooperatif (SPK), dantaranya adanya peserta, aturan, upaya belajar setiap peserta, tujuan yang akn dicapai.

Selain itu dalam pembelajaran kooperatif, guru juga mengelompokkan beberapa siswa yang mempunyai latar belakang yang berbeda / heterogen.

“Menurut Salvin (1995) pembelajaran yang kooperatif/berkelompok merupakanbentuk pembelajaran yang bisa memperbaiki sistem belajar yang selama ini mempunyai kelemahan”

6. Strategi Pembelajaran Kontekstual / CTL

Strategi Pembelajaran Kontekstual
Source: Posmetro Padang

Strategi pembelajaran kontekstual atau Contextual Teaching and Learning merupakan kegiatan belajar yang holistik (menyeluruh) yang bertujuan agar siswa termotivasi untuk memahami makna materi, serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari siswa.

Siswa juga diharapkan memiliki kemampuan dan keterampilan yang fleksibel dalam menerapkan permasalahan ke permasalahan lainnya.

Karakteristik pembelajaran CTL (Contextual Teaching and Learning) diantaranya:

  1. Kerjasama.
  2. Saling menunjang.
  3. Menyenangkan.
  4. Bergairah atau memberikan semangat belajar.
  5. Pembelajaran terintegrasi.
  6. Menggunakan berbagai sumber.
  7. Siswa aktif.
  8. Sharing dengan teman.
  9. Siswa kritis dan guru kreatif.
  10. Dinding dan lorong-lorong penuh dengan hasil kerja siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor dan lain-lain.
  11. Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor tetapi hasil karya siswa, laporan hasil pratikum, karangan siswa dan lain-lain.

7. Strategi Pembelajaran Afektif (SPA)

Macam macam strategi pembelajaran secara afektif
Source: Sahabat Keluarga Kemendikbud

Strategi pembelajaran afektif adalah proses pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai penidikan yang kognitif, serta pencapaian pada dimensi lainnya.

Yang membedakan strategi pembelajaran afektif dengan strategi pembelajaran kognitif dan keterampilan adalah sikap dan nilai yang mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai dalam pembelajarannya.

Selain itu pembelajaran pada aspek afektif yang paling penting dalah sikap dan minat siswa melalui lima jenjang, diantaranya:

  1. Menerima
  2. Menjawab
  3. Menilai
  4. Organisasi
  5. Karakteristik

Itulah macam-macam strategi/teknik dalam pembelajaran, semoga bermanfaat.

Leave a Reply

%d blogger menyukai ini: