Pengertian Hadits Qudsi Menurut Para Ulama

Mungkin dari kita pernah terlintas sebuah perntanyaan yaitu apa itu hadits qudsi?? apa pengertian hadits qudsi??. Dan dari kita ada yang mencoba mencarinya lalu bertanya kepada ustadz-ustadz, atau guru-guru yang memiliki ilmu agama yang baik.

Jika dari kita ada yang belum tahu apa itu hadits qudsi?, Untuk itu di artikel kali ini kami akan membahas tentang pengertian hadits qudsi, semoga bermanfaat. 😊😊😊

Pengertian Hadist Qudsi

Source: Google

Secara bahasa Qudsi artinya suci, makna itu merupakan salah satu makana yang dimiliki Allah subhanahu wa ta’ala dalam asmaul husna yaitu Al-Qudus “Yang Maha Suci”. Disebut dengan hadits qudsi karena perkataan Rasulullah yang dinisbahkan kepada Al-Qudus yaitu Allah subhanahu wa ta’ala.

Mayoritas ulama berpendapat mengenai pengertian hadits qudsi ini, dan menyimpulkan bahwasanya hadits qudsi ini adalah hadits yang maknanya dari Allah subhanahu wa ta’ala, sedangkan redaksinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Hal ini juga membedakan antara Al Quran dan hadits qudsi, karena definisi Al Quran adalah kalam Allah ta’ala, yang redaksi maknanya dari Allah.

Adapun para ulama memberikan pendapat dalam mendefinisikan istilah hadits qudsi ini, berikut para ulama yang mendefinisikan hadits qudsi:

Syeikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin

Source: Google

ما رواه النبي صلّى الله عليه وسلّم عن ربه – تعالى -، ويسمى أيضاً (الحديث الرباني والحديث الإلهي

“Hadits yang diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam dari rabb-nya (Allah subhanahu wa ta’ala), dan hadits ini disebut juga dengan hadits rabbani dan hadits ilahi.”

dan Syeikh Al utsatimin juga mengatakan bahwa,

“Hadits qudsi ialah hadits yang diriwayatkan oleh Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam, bahwasanya ia dianggap sebagai firman Allah, yang dinukil oleh Rasulullah tetapi dengan lafal dari beliau. Ini nampak jelas dari apa yang dinukil pada akhir sanadnya. seperti ini,

“Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

  • …قال الله تعالى (Allah telah berfirman…), atau
  • …فيما يرويه عن ربه عزّ وجل (dari yang ia riwayatkan dari Rabb-nya ‘Azza wa Jalla…). [Al Hadits fii Ulumil Quran wal Hadits, 1/175, Syeikh Hasan Muhammad Ayyub]

Beliau juga berpendapat tentang lafal dan makna hadits qudsi,

والحديث القدسي ينسب إلى الله تعالى معنىً لا لفظاً، ولذلك لا يتعبد بتلاوة لفظه، ولا يقرأ في الصلاة

“Hadits qudsi dinisbahkan kepada Allah ta’ala dalam makananya tapi tidak dengan lafalnya. Oleh karena itu membaca lafalnya tidak termasuk sebagai ibadah dan tidak dibaca dalam shalat.”[Musthalahul Hadits, 1/6]

Abul Qahir Al Jurjani

الحديث القدسي هو من حيث المعنى من عند الله تعالى ومن حيث اللفظ من رسول الله صلى الله عليه وسلم. فهو ما أخبر الله تعالى به نبيه بإلهام أو بالمنام فأخبر عليه السلام عن ذلك المعنى بعبارة نفسه فالقرآن مفضل عليه لأن لفظه منزل أيضا

Al Jurjani mengatakan bahwasanya Hadist Qudsi adalah hadits yang maknanya datang dari Allah subhanahu wa ta’ala, adapun redaksinya dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam.

Jadi hadits qudsi ini merupakan berita dari Allah subhanahu wa ta’ala kepada Muhammad melalui mimpi atau ilham. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam menyampaikan berita itu dengan ungkapan beliau sendiri.

Jika dibandingkan dengan Al Quran, meskipun makananya sama-sama datang dari Allah subhanahu wa ta’ala. Hal ini lah yang membedakan tingkatan Al Quran dan hadits qudsi, al Quran lebih utama karena Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan redaksinya secara langsung. [at-Ta’rifat hlm. 133]

Imam Az Zarqani

Salah satu kitab Imam az Zarqani

Az Zarqoni juga menyampaikan pendapatnya tentang definisi dari hadits qudsi ini, menurutnya redaksi dan makna hadits qudsi keduanya dari Allah subhanahu wa ta’ala. Sedangkan Hadits Nabawi (selain hadits qudsi) maknanya berdasarkan wahyu dalam kasus di luar Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam, sementara redaksinya dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam.

الحديث القدسي أُوحيت ألفاظه من الله على المشهور والحديث النبوي أوحيت معانيه في غير ما اجتهد فيه الرسول والألفاظ من الرسول

Hadits qudsi itu redaksinya diwahyukan dari Allah subhanahu wa ta’ala [termasuk pendapat yang masyhur]. adapun hadits nabawi ialah makna diwahyukan dari Allah subhanahu wa ta’ala untuk selain masalah ijtihad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan redaksinya dari beliau. [Manahil Al Urfan, 1/37]

Jika kita melihat berdasarkan keterangan dari Az Zarqawi tentang Al Quran maupun Hadits qudsi, keduanya merupakan sama-sama firman Allah subhanahu wa ta’ala. Adapun yang membedakan dari keduanya adalah masalah statusnya, dan hadits qudsi juga tidak memiliki keistimkewaan khusus sebagaimana Al Quran. [Manahil al Urfan, 1/37]

Ibnu Hajar Al Asqalani

Kitab Fathul Bari karya Ibnu Hajar Al Asqolani

Diantar ulama juga menerangkan pengertian hadits qudsi (hadits ilahi), salah satunya Syeikh islam Ibnu Taimiyah ia menerangkan tentang hadits ilahi dalam Majmu’ Fatawa dan Minhaj As Sunnah.

Ibnu Hajar Al Asqolani juga memberikan penyataannya tentang hadits qudsi (hadits ilahiah) dalam salah satu kitabnya, yang berbunyi:

الأحاديث الإلهية: وهي تحتمل أن يكون المصطفى صلى الله عليه وسلم أخذها عن الله تعالى بلا واسطة أو بواسطة

Hadits Ilahiyah adalah hadits yang memiliki kemungkinan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam mengambilnya dari Allah subhanahu wa ta’ala tanpa perantara atau melalui perantara. [Fathul Qadir 4/468]

Jalaluddin al-Mahalli

kitab tafsir Jalalain

Belaiau merupakan salah satu penulis dari kitab tafsir jalalain, dan beliau mengistilahkan hadits ini dengan hadits rabbani, dengan pernyataan beliau yang berbunyi:

الْأَحَادِيثَ الرَّبَّانِيَّةَ كَحَدِيثِ الصَّحِيحَيْنِ: أَنَا عِنْدَ ظَنِّ عَبْدِي بِي

Hadits Rabbani yaitu seperti hadits yang disebutkan di kedua kitab hadits shahih (Imam Bukhari dan Imam Muslim): ” Saya sesuai perasangka hamaba-Ku kepada-Ku.” [Hasyiyah al Atthar ‘ala syarh al Mahalli].

Imam Abdurrouf Al Munawi

الحديث القدسي إخبار الله تعالى نبيه عليه الصلاة والسلام معناه بإلهام أو بالمنام فأخبر النبي صلى الله عليه وسلم عن ذلك المعنى بعبارة نفسه

Al munawi mendefinisikan bahwa hadits qudsi adalah berita yang Allah turunkan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam secara makana dalam bentuk mimpi atau ilham. Lalu Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam menyampaikan berita itu dalam redaksi beliau.

Perbedaan Al Quran dan Hadits Qudsi

Al-Quran

  • Al Quran, wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam dibawa oleh malaikat jibril
  • Al Quran memiliki sifat Qath’i tsubut (keabsahan yang pasti), karena ayat al Quran turun, dan kesemuanya diriwayatkan kaum muslimin secara mutawatir. Jadi tidak ada isltilah ayat Al Quran yang diragukan keabsahannya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa salam.
  • Ketika kita membaca Al Quran maka setiap membacanya maka bernilai pahala pada setiap hurufnya. Seperti yang kita tahu bahwasanya dala kata aliflaammiim memiliki 3 huruf dan satu huruf memiliki 10 kebaikan.
  • Teks dan makna Al Quran merupakan mukjizat, sehingga tidak ada mahluk yang bisa membuat permisalan satu surat pun dalam al Quran.
  • Jika kita meningkari satu huruf saja dalam al Quran maka kita telah melakukan kekafiran, dan setatusnya kafir.

Hadits Qudsi

  • Hadits qudsi diturunkan bukan hanya melalui malaikat jibril saja,tapi juga bisa dalam bentuk mimpi atau ilham.
  • Hadits qudsi tidak memiliki jaminan keabsahannya, sehingga hal itu menajadikan hadits qudsi ada yang shahih, mardud, dhaif, dan ada juga yang palsu.
  • Saama seperti hadits nabawi lainnya yaitu tidak bernilai pahala ketika kita membacanya. Kecuali jika kita mempelajari, mengamalkannya maka akan bernilai pahala.
  • Teks dan makana hadits qudsi bukan merupakan mukjizat, dan bisa saja seseorang membuat hadis qudsi yang palsu.
  • Dalam hadis juga memiliki tingkatan-tingkatan dan syarat-syaratnya, bisa saja hadits qudsi tidak kita terima. Misalnya status prowinya yang tidak bisa diterima, atau karena syarat-syarat lain.

Kumpulan Hadits Qudsi

Source: Al Fahmu

Mungkin dari kita pernah mendengar atau mungkita tahu tentang hadits qudsi. Adapun salah satu contoh dari hadits qudsi yaitu yang terdapat dalam Al Arba’in An Nawawi hadits ke-24, hadits yang diriwayatkan oleh Muslim no. 6737.

Kita juga bisa baca dalam kitabnya syeikh fatih ghanim, yang memuat kumpulah hadits-hadits qudsi didalamnya. Hadis qudsi yang menerangkan tentang masaalah shalat, puasa, dan lainnya. Kita juga bisa mendapatkan kitabnya dalam bahasa indonesia yang ditebitkan oleh Al-Kautsar.

wallahu a’laam

Baca Juga:
Doa Sebelum/Sesudah Makan Sesuai Tuntunan Rasulullah
Doa-doa meminta pertolongan agar diberi kemudahan dalam urusan
Doa Memakai Pakaian

Tinggalkan komentar